Pencarian

Kongres Bahasa Sasak I Digelar 28–30 Oktober 2026, Majelis Adat Sasak Dorong Lahirnya Regulasi Pelestarian

Senin, 03 Agustus 2026 • 20:41:01 WIB
Kongres Bahasa Sasak I Digelar 28–30 Oktober 2026, Majelis Adat Sasak Dorong Lahirnya Regulasi Pelestarian
Ratusan peserta dari seluruh kabupaten dan kota di Pulau Lombok dijadwalkan menghadiri Kongres Bahasa Sasak I pada 28–30 Oktober 2026 di Mataram.

MATARAM — Ratusan peserta dari seluruh kabupaten dan kota di Pulau Lombok dijadwalkan menghadiri Kongres Bahasa Sasak I pada 28–30 Oktober 2026. Inisiatif ini digagas Majelis Adat Sasak setelah melihat banyak kosakata penting mulai ditinggalkan penuturnya, terutama di kalangan anak muda.

Ketua Majelis Adat Sasak, Lalu Sajim Sastrawan, menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah cerminan karakter, nilai, tata krama, dan identitas budaya masyarakat Sasak. "Kalau tidak segera dilakukan pembenahan, anak-anak kita akan kehilangan jejak bahasanya sendiri," ujarnya, Senin (03/08/2026).

Kosakata Pertanian dan Pasar yang Mulai Dilupakan

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Sejumlah istilah pertanian yang dulu akrab di telinga masyarakat—penyakap, nggaru, mata', blengseng, nyolasin, hingga nyiwa'—kini tidak lagi dipahami mayoritas generasi muda. Padahal, kosakata tersebut lahir dari kehidupan sosial dan produktivitas masyarakat Sasak.

Pergeseran serupa terjadi pada istilah ekonomi dan aktivitas pasar. Kata-kata seperti peken, ngadang, nyorok, nyorokan, dan nyulang mulai jarang digunakan. Bahkan, sapaan kekeluargaan seperti inaq perlahan tergeser oleh istilah lain.

Mulok Bahasa Sasak Bakal Diperkuat Hingga Jenjang SMP

Melalui kongres ini, Majelis Adat Sasak mendorong pendokumentasian kosakata yang mulai hilang sekaligus memperkuat penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu rekomendasi utama yang akan dibahas adalah penguatan mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) agar pembelajaran bahasa Sasak lebih komprehensif.

Materi yang diusulkan mencakup tata bahasa, kosakata, hingga praktik penggunaan di lingkungan pendidikan, mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP. Dengan demikian, regenerasi penutur bahasa Sasak diharapkan berjalan sejak usia dini.

Rekomendasi Regulasi untuk Pemerintah Daerah

Kongres ini juga akan menghasilkan rekomendasi resmi kepada pemerintah kabupaten, Pemerintah Provinsi NTB, dan DPRD agar melahirkan regulasi yang mendukung pelestarian bahasa daerah. Pembagian peran antara Majelis Adat Sasak, Balai Bahasa, pemerintah daerah, dan lembaga legislatif menjadi poin penting yang akan dirumuskan.

"Harapannya, masing-masing lembaga memiliki tugas yang jelas sehingga bahasa Sasak tidak terus tergerus oleh perkembangan zaman maupun oleh masyarakatnya sendiri yang semakin kurang peduli terhadap bahasa daerah," kata Sajim.

Ia menaruh harapan besar agar suatu saat bahasa Sasak semakin dikenal luas hingga memiliki posisi penting di tingkat internasional, sebagaimana bahasa-bahasa lain yang terus dikembangkan oleh masyarakat penuturnya.

Dukungan Penuh Balai Bahasa NTB

Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Arie Anggara Saisab, menyatakan pihaknya mendukung penuh pelaksanaan Kongres Bahasa Sasak sebagai bagian dari upaya pelestarian bahasa daerah. Menurutnya, Badan Bahasa memiliki mandat untuk merevitalisasi bahasa-bahasa daerah di Indonesia.

"Kami sangat mendukung penyelenggaraan Kongres Bahasa Sasak sebagai upaya melestarikan bahasa daerah dan memelihara budaya lokal. Harapan kami, bahasa daerah dapat terus lestari, terjaga, dan terpelihara dengan baik," katanya.

Follow www.lombok24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kicknews.today

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks