Pencarian

Pertamina Patra Niaga Kerek Pendapatan Nelayan Batam 40%, Olah Ikan Kakap hingga Bawal Jadi Produk Usaha

Senin, 10 Agustus 2026 • 11:47:31 WIB
Pertamina Patra Niaga Kerek Pendapatan Nelayan Batam 40%, Olah Ikan Kakap hingga Bawal Jadi Produk Usaha
Warga Kampung Tua Terih, Batam, menunjukkan produk olahan ikan kakap dan bawal hasil program Kampung Bahari Si Pelaut binaan Pertamina Patra Niaga.

NUSA TENGGARA BARAT — Kampung Tua Terih di Batam perlahan berubah wajah. Yang tadinya hanya mengandalkan penjualan ikan mentah, kini warga pesisir mengolah tangkapan laut menjadi produk yang punya nilai jual lebih tinggi. Pertamina Patra Niaga menggandeng nelayan dan kelompok perempuan setempat lewat program Kampung Bahari Si Pelaut.

Empat kelompok usaha binaan terlibat dalam program ini: Kelompok Usaha Bersama (KUB) Terihindo Jaya Lestari, KUB Belian Tuah, Kelompok Wanita Tani Warisan Lestari, dan Poklahsar Sukses Bersama. Mereka mengembangkan budidaya ikan kakap, bawal, kerapu, hingga sistem aquaponik yang memadukan ikan air tawar dan sayuran. Kegiatan rehabilitasi mangrove juga berjalan di kawasan tersebut.

Dari Tangkapan Laut Jadi Sumber Penghasilan Baru

Hasilnya terlihat dari kantong warga. Pendapatan kelompok nelayan dan UMKM perempuan naik dari Rp27,56 juta menjadi Rp68,45 juta, atau rata-rata sekitar 40% per anggota. Angka ini bukan sekadar statistik—artinya ada tambahan pemasukan riil untuk kebutuhan sehari-hari keluarga.

Komisaris Utama Pertamina Patra Niaga Sabar Yudo Suroso yang meninjau langsung lokasi program menilai inisiatif ini membuktikan bahwa pendampingan perusahaan bisa berbuah kegiatan ekonomi produktif.

"Apa yang dikembangkan di sini menunjukkan bahwa dukungan yang diberikan dapat dimanfaatkan menjadi kegiatan produktif, sarana edukasi, sekaligus produk yang memiliki nilai tambah. Potensinya sangat baik dan perlu terus dikembangkan agar manfaatnya semakin luas," kata Sabar dalam keterangan resmi, Minggu (9/7/2026).

Bukan Sekadar Bantuan, Tapi Pembangunan Ekosistem

Yang menarik dari program ini adalah pendekatannya. Pertamina tidak sekadar memberi bantuan alat tangkap atau modal, tetapi membangun ekosistem usaha lengkap—dari hulu budidaya, pengolahan, hingga pemasaran. Nelayan diajari membesarkan ikan kakap dan bawal, sementara kelompok perempuan mengolah hasil perikanan menjadi produk yang bisa dijual.

Kampung Bahari Si Pelaut juga menjadi sarana edukasi bagi warga sekitar. Rehabilitasi mangrove yang digarap bersama memberikan manfaat ganda: melindungi pesisir dari abrasi sekaligus menjadi habitat alami biota laut yang menopang tangkapan nelayan.

Langkah Berikutnya

Dewan Komisaris Pertamina Patra Niaga mendorong program ini terus diperluas cakupannya. Jika skema serupa diterapkan di lokasi pesisir lain, dampak berganda bisa dirasakan lebih banyak komunitas nelayan di Indonesia.

Program Kampung Bahari Si Pelaut sendiri merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan di bidang pemberdayaan masyarakat. Melalui Aviation Fuel Terminal Hang Nadim, Pertamina Patra Niaga menjalankan Community Involvement & Development (CID) yang menyasar wilayah ring 1 operasional perusahaan.

Keberhasilan Kampung Tua Terih setidaknya memberi gambaran bahwa kolaborasi BUMN dengan masyarakat pesisir bisa menghasilkan perubahan ekonomi yang terukur—bukan sekadar seremoni.

Follow www.lombok24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks