MATARAM — Puluhan calon pekerja migran asal Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai menempuh seleksi ketat untuk bisa terbang ke Jepang. Mereka yang dinyatakan lulus pada tahap ini akan melanjutkan pelatihan nasional di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kementerian Tenaga Kerja di Bekasi.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB, Dr. Aidy Furqan, menyebut pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan dasar bahasa Jepang, pemahaman budaya dan etika kerja, serta penguatan fisik dan mental. Ada beberapa tahap evaluasi yang harus dilalui, termasuk evaluasi bahasa serta dua tahap evaluasi fisik dan kompetensi.
"Para peserta pemagangan Jepang kali ini, kami harapkan untuk maksimal memberikan kemampuan dan potensinya supaya tidak tereliminasi," harap Aidy dalam laporannya.
Gubernur: Jangan Puas Sebelum Waktunya
Gubernur NTB, Dr. Lalu Muhamad Iqbal, mengingatkan para peserta bahwa pelatihan ini bukan sekadar formalitas. Ia meminta setiap calon PMI untuk mengalami kemajuan, baik dalam fisik, skill, disiplin, maupun kemampuan berbahasa.
"Kedepannya, semua harus progres. Jangan sampai mengalami penurunan. Yang bisa membuat kalian mengalami penurunan itu adalah melakukan diri puas sebelum waktunya. Jadi jangan puas, terus bekerja," ujar Miq Iqbal, sapaan akrabnya.
Gaji Bukan untuk Gaya Hidup, tapi untuk Masa Depan
Pemprov NTB mendorong program pemagangan ini bukan hanya sekadar mencari kerja dan membawa pulang gaji. Miq Iqbal menegaskan penghasilan yang diperoleh selama di Jepang harus diarahkan ke hal-hal produktif untuk membangun keberlanjutan ekonomi keluarga.
"Pertama membangun keluarganya, kalau keluarganya yang kemudian miskin ekstrem jadi tidak miskin. Yang miskin kemudian menjadi lebih baik, yang sudah baik keluarganya lebih diangkat lagi kesejahteraannya," ungkapnya.
Ia pun berpesan agar para calon pekerja migran bisa mengelola waktu dan uang dengan baik. "Masa depanmu, masa depan keluargamu, masa depan anakmu nanti. Maka jangan sampai uang ini sia-sia, jangan sampai uang ini habis lantaran gaya hidup," pesan Gubernur.
Bawa Pulang Budaya Kerja Jepang
Selain soal finansial, Miq Iqbal menilai nilai paling mahal yang bisa dibawa pulang dari Jepang adalah etos kerja dan kedisiplinan tingkat tinggi. Ia berharap para peserta magang bisa menularkan kebiasaan tersebut ke masyarakat sekitar setelah kembali ke NTB.
"Makin banyak orang yang mencintai disiplinan, makin banyak orang yang menghormati disiplinan, maka disiplinan itu nanti menjadi mainstream," jelasnya.
Literasi Keuangan dan Skema KUR PMI
Pemerintah provinsi juga mendorong para calon PMI untuk mengembangkan literasi keuangan. Miq Iqbal menyarankan para peserta untuk memikirkan skema pembiayaan menggunakan KUR PMI yang sudah tersedia di Bank NTB Syariah agar modal usaha siap saat kembali ke kampung halaman.
"Jadi ketika teman teman sudah kembali, gunakan uang untuk sesuatu yang produktif sehingga kalian tidak sama kondisinya dengan pada saat kamu meninggalkan Indonesia. Kondisimu sudah lebih baik, sudah punya rumah, sudah punya tanah untuk produksi. Jangan beli hal-hal yang konsumtif," jelasnya.
Diberangkatkan Akhir 2026, Kontrak hingga Lima Tahun
Peserta yang lulus pada pelatihan nasional tahap kedua akan diberangkatkan ke Jepang pada akhir tahun 2026 atau selambat-lambatnya awal 2027. Masa kerja mereka berlangsung selama tiga tahun, namun bagi peserta dengan potensi luar biasa, kontrak bisa diperpanjang hingga lima tahun.
"Mereka kita harapkan menjadi bagian duta kita untuk Nusa Tenggara Barat untuk mewujudkan dan menyuarakan visi Nusa Tenggara Barat yang makmur mendunia," ungkap Aidy. (red).