NUSA TENGGARA BARAT — Stafford Motor Speedway, sirkuit oval kecil di Connecticut, berubah menjadi panggung tontonan yang tak biasa. Ajang yang dipromotori YouTuber Garrett Mitchell, alias Cleetus McFarland, ini bukan sekadar balapan. Ia menghadirkan "Van Prix"—balap minivan tanpa roll cage—hingga kembang api berskala kota kecil, semuanya dibalut aturan longgar dan atmosfer penonton yang riuh.
Format Balap Spekulasi: Mobil Identik, Aturan Ketat
Semua peserta membalap dengan Ford Crown Victoria tahun 2003 ke atas yang disiapkan panitia. Setiap unit dilengkapi roll cage, jok balap, dan nitrous oxide 50-shot dengan tabung 10 pon yang mampu menyemprot selama 60 detik. Ban Nitto dan pelek baja menjadi standar, sementara knalpot sengaja dibuat tanpa peredam.
Tim Cleetus memastikan semua mobil seseragam mungkin. Peserta dilarang melakukan penyetelan apa pun sebelum balapan, bahkan sekadar memeriksa tekanan ban atau membuka kap mesin. Satu-satunya kebebasan adalah menghias bodi—seperti lomba 24 Hours of Lemons—dengan cat semprot dan slogan-slogan konyol.
Setengah Grid Pembalap Pro, Setengahnya Kreator Konten
Yang membuat balapan ini unik adalah komposisi pesertanya. Di satu sisi ada Ryan Preece, pembalap NASCAR yang menang di sirkuit ini tahun lalu. Di sisi lain ada Richard Childress, pendiri Richard Childress Racing yang usianya sudah 80 tahun, plus cucunya Ty Dillon yang turun di NASCAR Cup Series. Formula Drift Champions dan pembalap Late Model juga ikut ambil bagian.
Sisanya diisi kreator konten dan jurnalis seperti Farah, yang mengaku belum pernah berada dalam satu grid di mana separuh pesertanya pembalap profesional dan separuhnya lagi pemula. "Saya tidak tahu apakah ini normal atau saya yang naif," tulisnya dalam laporan langsung dari kursi pengemudi.
Kualifikasi Lima Lap: Belajar Mobil Sambil Menentukan Posisi
Tidak ada sesi latihan. Putaran pertama mobil dimulai seratus yard dari garis start kualifikasi. Setiap peserta hanya mendapat lima lap: satu lap keluar, tiga lap cepat, dan satu lap pendinginan. Dalam waktu sesingkat itu, mereka harus memahami karakter mobil, mencari garis ideal, dan mencatat waktu.
Seorang peserta di depan Farah terlalu agresif dan menabrak dinding. Insiden itu langsung mengubah prioritasnya: "Tidak menabrak dinding" naik ke peringkat satu, mengalahkan target waktu cepat. Ia finis kualifikasi di posisi 18 dari 24 mobil, tepat di area yang diinginkannya untuk menghadapi start yang diperkirakan kacau.
Undercard: Balap Nissan Altima dan Van Prix Tanpa Kandang
Sebelum race utama, penonton disuguhi balap 40 Nissan Altima di sirkuit dalam sepanjang seperdelapan mil. Meski diiklankan sebagai balap 40 lap, kenyataannya lebih mirip "mobil terakhir yang bertahan hidup." Hanya sepertiga mobil yang finis, sisanya gugur di tengah jalan karena kerusakan.
Van Prix bahkan lebih liar. Minivan jalan raya—tanpa roll cage, sabuk standar, kaca utuh—dipacu di oval yang sama. Para pengemudi datang dengan optimisme tinggi, tapi kenyataan di lintasan jauh dari harapan. "Yang gila adalah optimisme sebagian orang," tulis Farah, menggambarkan suasana yang setengah tontonan, setengah adu nasib.
Model Bisnis: Tiket, PPV, dan Konten
Di balik hiruk-pikuk ini, ada mesin bisnis yang terorganisir. Cleetus McFarland yang serba bisa—promotor, pembawa acara, produser, dan inspirasi—didukung Alan Chervitz yang mengurus logistik. Ajang ini sudah menjual puluhan ribu tiket dan ribuan langganan pay-per-view. Empat anggota keluarga Farah bahkan ikut menonton dari rumah.
Acara dimulai pukul 11 pagi dengan antrean ratusan orang di gerbang, padahal balapan baru mulai pukul enam sore. Penonton yang sudah berpengalaman datang membawa helm sekitar pukul tiga sore. Mereka yang datang pagi—termasuk Farah—harus rela kepalanya terbakar matahari sebelum aksi di lintasan dimulai.