LOMBOK TENGAH — Gerakan menanam cabai di lingkungan sekolah resmi dimulai di Kabupaten Lombok Tengah. Program bertajuk Bersama Siswa Tanam Cabai Atasi Inflasi (Besti) ini dilaunching langsung oleh Wakil Bupati Lombok Tengah HM Nursiah di SMP Negeri 1 Praya Tengah, Sabtu.
Kebijakan ini dirancang merespons fluktuasi harga cabai yang kerap memicu inflasi daerah. Dengan melibatkan pelajar, pemerintah menargetkan budaya menanam tertanam sejak usia dini melalui jalur pendidikan formal.
Mengapa Sekolah Menjadi Sasaran Utama?
Pemkab Lombok Tengah menilai lembaga pendidikan adalah titik strategis menanamkan nilai ketahanan pangan. HM Nursiah menyebut sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan wahana membangun karakter generasi muda yang inovatif dan produktif.
"Melalui program ini, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga pengalaman langsung dalam membudidayakan tanaman yang memiliki nilai ekonomi dan bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.
Praktik bercocok tanam di lingkungan sekolah memberi pemahaman konkret kepada siswa tentang rantai pasok pangan. Mereka belajar dari proses penanaman hingga panen, sekaligus memahami penyebab gejolak harga cabai di pasaran.
Apa Saja Faktor Penentu Keberhasilan?
Wakil Bupati mengingatkan program ini tidak boleh berhenti pada seremoni peluncuran semata. Ia meminta gerakan ini dirawat menjadi budaya berkelanjutan di setiap sekolah, bukan sekadar kegiatan sesaat.
"Saya berharap gerakan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi budaya di lingkungan sekolah," kata Nursiah.
Sinergi antarinstansi menjadi kunci utama. Pemkab Lombok Tengah mendorong kolaborasi erat antara pihak sekolah, penyuluh pertanian lapangan (PPL), dan kelompok tani untuk memastikan pendampingan teknis berjalan optimal dari masa tanam hingga panen.
Bagaimana Hasil Panen Berkontribusi pada Stabilitas Harga?
Pemkab Lombok Tengah memproyeksikan hasil panen program ini mampu memenuhi kebutuhan internal sekolah. Lebih dari itu, kelebihan produksi berpotensi memberi dampak nyata terhadap pengendalian inflasi di tingkat kabupaten.
HM Nursiah optimistis jika program dikelola dengan baik, hasil panen cabai dari sekolah-sekolah mampu menambah pasokan lokal. Hal ini secara bertahap membantu menstabilkan harga saat terjadi lonjakan permintaan di pasar.
Para kepala sekolah juga diminta mengintegrasikan gerakan menanam ini ke dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami teori pertanian, tetapi juga memiliki keterampilan praktis dan kepedulian terhadap stabilitas pangan daerah.
Langkah Ekspansi: Pondok Pesantren Jadi Target Berikutnya
Program Besti tidak berhenti di sekolah negeri. Wakil Bupati menyatakan rencana pengembangan gerakan ini ke berbagai lembaga pendidikan lainnya, termasuk pondok pesantren yang dinilai memiliki potensi lahan luas untuk mendukung ketahanan pangan.
"Program ini harus terus dikembangkan ke berbagai lembaga pendidikan lainnya, termasuk pondok pesantren yang memiliki potensi lahan cukup luas untuk mendukung gerakan ketahanan pangan," jelas Nursiah.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah menjadikan sektor pendidikan sebagai garda terdepan menghadapi gejolak ekonomi. Dengan lahan yang tersedia di lingkungan pesantren, kontribusi terhadap pasokan cabai lokal diproyeksikan semakin besar ke depannya.