BIMA — Harga pupuk kimia yang tak kunjung turun mendorong seorang pemuda di Desa Sondo, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, untuk menciptakan solusi mandiri. Salahudin, warga lokal, meramu pupuk organik cair yang diberi nama Sondo Organik (SONIK) dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar desa.
Hasil Uji Coba Terbukti Dongkrak Produktivitas
Inovasi ini tidak hanya lahir dari keresahan, tetapi juga telah melalui tahap uji coba di lahan pertanian warga. Hasilnya, pupuk SONIK dinilai mampu mendongkrak produktivitas sekaligus menjaga kualitas hasil panen.
“Kuncinya ada pada kemauan memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita. Pupuk SONIK ini membuktikan bahwa kita tak perlu terus bergantung pada pupuk kimia yang makin mahal,” tegas Salahudin saat memperkenalkan produknya di hadapan jajaran pemerintah daerah dan ratusan warga.
Bupati: Inovasi Pemuda Harus Dapat Panggung
Program Selasa Menyapa yang digelar Pemkab Bima menjadi ajang bagi Salahudin untuk memamerkan karyanya. Bupati Bima, Ady Mahyudi, yang hadir langsung mengapresiasi terobosan tersebut. Menurutnya, inovasi seperti inilah yang menjadi alasan utama jajaran Pemkab Bima turun langsung menyapa warga hingga ke pelosok desa.
“Inovasi pemuda seperti ini yang kita butuhkan. Kehadiran kami di sini bukan sekadar seremonial. Tetapi untuk memastikan karya warga mendapatkan panggung dan dukungan nyata dari dinas terkait,” ujar Ady di hadapan jajaran Pemkab dan tokoh masyarakat.
Wabup: Solusi Langsung ke Titik Terbawah
Wakil Bupati dr. H. Irfan Zubaidy menambahkan, kunjungan lapangan ini merupakan wujud komitmen untuk menyelesaikan masalah riil di masyarakat secara langsung, tanpa menunggu warga datang ke kantor bupati. Acara Selasa Menyapa juga dirangkaikan dengan Bazar UMKM, penyerahan bantuan sosial, pangan, dan alat bantu bagi warga disabilitas.
Terobosan pupuk SONIK menjadi bukti nyata bahwa gagasan besar untuk memajukan sektor pertanian di Kabupaten Bima justru lahir dari sudut-sudut desa. Pemkab Bima berkomitmen merangkul inovasi lokal dan memastikan pembangunan desa terus berjalan dari hasil karya masyarakatnya sendiri. (*)