MATARAM — Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mengatakan buku tersebut melibatkan delapan penulis lokal asal Lombok bersama sejumlah peneliti dari Jepang, Inggris, Amerika Serikat, dan Australia. Menurutnya, selama ini publikasi internasional yang secara khusus membahas kain Lombok masih sangat terbatas.
"Indonesia dengan Australia sangat dekat, kedua negara ini tetangga yang sangat dekat. Jadi, salah satu bentuk kolaborasi yang terus kami lakukan adalah membangun komunikasi kebudayaan," ucapnya di Mataram, Senin.
Museum NTB turut menyumbang delapan foto artefak untuk buku yang dijadwalkan diluncurkan pada Oktober 2026 mendatang. Kontribusi ini dinilai penting sebagai penguat dokumentasi sejarah tekstil Lombok yang selama ini belum banyak terekam dalam literatur global.
Harapan untuk Generasi Sasak Menulis Budaya Sendiri
Nuralam berharap kolaborasi ini bisa memicu lebih banyak generasi muda Sasak untuk meneliti dan menulis tentang kebudayaannya sendiri. "Mudah-mudahan setelah ini semakin banyak generasi Sasak di Lombok yang menulis tentang kebudayaannya dan diterbitkan, supaya kekayaan khazanah kebudayaan dikenal oleh masyarakat luas," kata dia.
Kurator Emeritus Museum & Art Gallery of the Northern Territory (MAGNT) Australia, James Bennett, memaparkan penyusunan buku telah dimulai sekitar tiga tahun lalu. Ia menilai keterlibatan peneliti lokal memperkaya perspektif tentang kebudayaan Sasak sekaligus memperkuat posisi Lombok dalam literatur budaya dunia.
"Saya harap buku itu menjadi langkah untuk orang lokal mengadakan penelitian lebih dalam tentang sejarah kain di Lombok," kata James yang pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia pada tahun 1979 itu.
Mengapa Riset Ini Penting Bagi Wastra Nusantara?
Kain tenun Lombok memiliki motif dan filosofi yang khas, namun dokumentasi ilmiahnya masih tertinggal dibandingkan wastra dari daerah lain seperti Bali atau Sumatera. Buku ini menjadi salah satu upaya sistematis untuk mengangkat kekayaan budaya Sasak ke permukaan.
Penerbitan ini juga menjadi bukti bahwa hubungan kebudayaan Indonesia-Australia yang telah terjalin berabad-abad masih terus diperkuat, kali ini melalui jalur riset dan publikasi akademik.