LOMBOK TIMUR — Perjalanan Safrudin menuju kursi pimpinan Komisi I DPRD Lombok Timur tidak dimulai dari panggung politik, melainkan dari lapangan penjualan mobil. Pria yang kini duduk di DPRD Kabupaten Lombok Timur itu mengawali kariernya sebagai tenaga pemasaran untuk sejumlah merek otomotif, termasuk Suzuki dan Toyota.
Dari profesinya itu, Safrudin memetik pelajaran penting yang kemudian ia bawa ke dunia politik. Ia menilai, baik menjadi seorang sales maupun wakil rakyat, inti tugasnya sama: membangun komunikasi dan meyakinkan orang lain.
“Kalau di sales kita meyakinkan konsumen membeli produk. Kalau di politik, kita meyakinkan masyarakat melalui kinerja,” kata Safrudin kepada NTBSatu, kemarin.
Bedanya, lanjut dia, seorang tenaga penjualan menawarkan produk kepada konsumen, sementara politisi menawarkan gagasan serta kinerja kepada masyarakat. Prinsip inilah yang ia pegang teguh selama dua periode duduk di legislatif.
Safrudin mengaku awalnya tidak bercita-cita menjadi anggota dewan. Langkahnya masuk politik murni karena dorongan sang ayah yang ingin ia mencoba peruntungan di panggung demokrasi. Namun, dukungan keluarga membuatnya berani melangkah.
Keputusan itu membuahkan hasil. Pada periode pertamanya, Safrudin yang saat itu masih berusia sekitar 28 tahun berhasil mengumpulkan 2.221 suara. Capaian ini menjadi modal berharga untuk melanjutkan pengabdiannya.
Memasuki periode kedua, perolehan suaranya meningkat drastis lebih dari dua kali lipat menjadi 5.422 suara. Lonjakan suara ini ia nilai sebagai bentuk kepercayaan masyarakat terhadap kinerjanya selama menjalankan tugas sebagai wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) 3.
“PR kita masih banyak. Masih banyak aspirasi masyarakat yang belum kita selesaikan,” ujarnya.
Sebagai anggota dewan, Safrudin mengakui adanya keterbatasan anggaran yang turut memengaruhi program pokok pikiran (pokir). Meski begitu, ia menegaskan bahwa keterbatasan tersebut tidak lantas membuatnya berhenti memperjuangkan aspirasi warga.
Ia memilih menggunakan skala prioritas dalam menyerap aspirasi. Bagi Safrudin, program yang paling penting dan menyentuh kebutuhan masyarakat harus didahulukan, sementara kebutuhan yang kurang mendesak bisa diusulkan pada periode berikutnya.
“Program yang sangat penting dan dibutuhkan masyarakat kita dahulukan. Yang kurang mendesak bisa menjadi aspirasi berikutnya,” jelasnya.
Di luar kesibukannya sebagai Ketua Komisi I DPRD Lombok Timur, Safrudin ternyata masih menyandang status sebagai seorang guru. Dunia pendidikan memang sudah menjadi bagian dari hidupnya jauh sebelum ia terjun ke politik.
Setiap harinya, ia membagi waktu antara mengajar dan menjalankan agenda kedewanan. Setelah menyelesaikan tugas di kantor, ia kembali turun ke masyarakat untuk menyerap aspirasi. Ia bahkan ikut membangun sekolah bersama masyarakat dan keluarga sebagai bentuk pengabdian jangka panjang.
Kemampuan organisasinya sendiri sudah terasah sejak duduk di bangku SMP dan SMA, ketika ia dipercaya menjadi Ketua OSIS. Saat kuliah di IKIP Mataram—yang kini bernama Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma)—ia kembali aktif di berbagai organisasi kampus maupun eksternal.
Kini, sebagai Ketua Komisi I, Safrudin dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan anggota dewan dari berbagai partai politik. Ia menilai kemampuan komunikasi menjadi modal penting dalam menjalankan fungsi kedewanan.
“Di DPR itu komunikasi sangat penting. Kita harus bisa menyampaikan dan memperjuangkan hak masyarakat,” katanya.
Meski menyandang jabatan prestisius, Safrudin mengaku tetap hidup sederhana. Kebiasaannya berbelanja ke pasar dan berbaur dengan warga kerap membuat orang tak percaya bahwa dirinya adalah seorang anggota DPRD.
“Kadang orang tidak percaya. Mereka bertanya, benar DPR atau bukan,” ujarnya sambil tertawa.
Ia pun tetap berusaha membantu istrinya di rumah dan menyisihkan waktu khusus untuk keluarga ketika tidak ada agenda kedinasan. “Prioritas keluarga itu nomor satu. Apa pun itu berawal dari keluarga,” pungkasnya.