NUSA TENGGARA BARAT — Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan capaian ini menjadi indikator menguatnya peran sektor pariwisata dalam perekonomian nasional. Dari total investasi tersebut, PMA tercatat sebesar Rp12,19 triliun, sedangkan PMDN mencapai Rp27,48 triliun atau naik 9,39% secara tahunan.
"Capaiannya tidak terjadi dengan sendirinya. Pemerintah terus menjalankan strategi yang adaptif, termasuk melakukan pivot atau penyesuaian pasar, memperkuat promosi ke negara-negara yang masih memiliki potensi pertumbuhan, menjaga pergerakan wisatawan di dalam negeri, serta mengembangkan produk dan destinasi yang semakin berkualitas," kata Widiyanti dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Pertumbuhan investasi berjalan seiring dengan membaiknya indikator pariwisata lainnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 7,45 juta kunjungan pada periode Januari–Juni 2026, naik 5,71% dibandingkan semester yang sama tahun sebelumnya.
Mobilitas wisatawan nusantara (wisnus) juga menunjukkan tren positif dengan total 630,41 juta perjalanan, tumbuh 2,71% secara tahunan. Adapun tingkat okupansi hotel tercatat di angka 48,20%, meningkat 2,48 poin persentase dibandingkan Semester I 2025.
Efek berantai dari aktivitas pariwisata mulai terlihat pada pertumbuhan sektor terkait di kuartal II 2026. Sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60%, sementara transportasi dan pergudangan menguat 5,65%.
Menurut Widiyanti, arus modal yang masuk tidak hanya membangun fasilitas wisata, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat rantai pasok lokal. "Investasi pariwisata tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasok lokal, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai destinasi," ujarnya.
Pemerintah tengah memperluas pangsa pasar mancanegara dengan menjadikan India sebagai prioritas promosi. Langkah ini menyusul kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada Juli 2026.
Di sisi domestik, Kementerian Pariwisata mendorong pemerataan kunjungan melalui pengembangan destinasi alternatif. Di Bali, misalnya, pemerintah menyiapkan masterplan dispersi wisatawan untuk mengurangi konsentrasi kunjungan di Bali Selatan serta menggenjot pertumbuhan Bali Utara, Bali Timur, dan Bali Barat.
Pengembangan produk juga diarahkan pada segmen minat khusus dan ekonomi kreatif, mencakup wisata kebugaran, gastronomi, wastra, seni, hingga desain. "Tujuan kami jelas, menjadikan pariwisata sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi, pencipta lapangan kerja, sumber devisa, sekaligus jalan menuju pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia," tutup Widiyanti.