NUSA TENGGARA BARAT — Distribusi nilai ekonomi senilai Rp 180,30 triliun itu bukan sekadar angka administratif. Aliran dana tersebut menyentuh berbagai lapisan, mulai dari mitra usaha kecil, karyawan lokal, hingga kas negara melalui setoran pajak dan dividen. Bagi MIND ID yang menaungi PT Aneka Tambang (Antam), PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), dan PT Bukit Asam, angka itu setara dengan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di wilayah operasionalnya.
Dari total realisasi tersebut, porsi terbesar dialokasikan untuk belanja barang dan jasa dari pemasok lokal. Langkah ini secara langsung menghidupkan ribuan UMKM dan perusahaan jasa penunjang di sekitar area tambang. Selain itu, dana juga terserap untuk upah tenaga kerja, termasuk program pengembangan masyarakat (community development) yang mencakup pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur desa.
Jika dirinci, alokasi terbesar kedua adalah kontribusi kepada negara. MIND ID tercatat menyetorkan pajak, royalti, dan dividen yang menjadi sumber pendapatan utama APBN. Sisanya mengalir untuk pembayaran bunga pinjaman kepada kreditur dan bagi hasil kepada mitra usaha patungan. Pola distribusi ini memastikan bahwa setiap operasional tambang memberikan dampak berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional maupun lokal.
Kehadiran BUMN tambang sering kali menjadi penopang utama ekonomi di wilayah terpencil. Di daerah seperti Papua, Sulawesi Tenggara, atau Sumatera Selatan, gaji karyawan dan belanja perusahaan menjadi motor penggerak pasar tradisional hingga perumahan. Ketika MIND ID menyalurkan dana ke pemasok lokal, uang tersebut berputar lebih lama di masyarakat dibandingkan jika barang dibeli dari luar negeri.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen memperbesar porsi belanja dalam negeri. "Kami terus mendorong penggunaan produk lokal dalam rantai pasok tambang. Ini bagian dari tugas kami untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, kemarin.
Komitmen itu sejalan dengan arahan Kementerian BUMN agar perusahaan pelat merah meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Dengan begitu, ketergantungan pada barang impor bisa ditekan, sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi nasional di tengah fluktuasi harga komoditas global.
MIND ID menargetkan nilai distribusi ekonomi akan terus tumbuh seiring rampungnya proyek-proyek hilirisasi. Smelter baru di Gresik dan Manyar, Jawa Timur, misalnya, diproyeksikan menyerap ribuan tenaga kerja tambahan dan meningkatkan nilai tambah bijih mineral di dalam negeri. Dengan hilirisasi, keuntungan yang sebelumnya dinikmati pembeli luar negeri kini bisa dinikmati masyarakat Indonesia.
Ke depan, holding tambang ini juga fokus pada transisi energi. Melalui anak usahanya, MIND ID mulai mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik yang membutuhkan nikel dan tembaga dalam jumlah besar. Langkah ini tidak hanya menjaga keberlanjutan bisnis, tetapi juga memastikan distribusi nilai ekonomi tetap berjalan seiring perubahan teknologi global.
Realisasi Rp 180,30 triliun pada 2025 ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa sektor pertambangan tetap menjadi tulang punggung penerimaan negara di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Bagi masyarakat di sekitar tambang, angka ini berarti sekolah baru, layanan kesehatan yang lebih baik, dan roda usaha yang terus berputar.