NUSA TENGGARA BARAT — Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia pada anak melonjak hingga 20 persen di wilayah terdampak karhutla. Kementerian Kesehatan mencatat 113.336 kasus ISPA di tujuh provinsi, dengan 26.545 di antaranya menyerang balita. Berikut rincian datanya dan cara melindungi si kecil dari paparan asap.
Kebakaran hutan dan lahan yang meluas di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat membuat kualitas udara memburuk. Di RS Bhayangkara Pontianak, kasus ISPA dan pneumonia anak naik sekitar 10-20 persen sejak karhutla meluas.
Angka ini bukan sekadar statistik. Anak-anak menghirup lebih banyak udara dibanding berat tubuhnya, sementara paru-paru dan sistem imun mereka masih berkembang.
Berapa Banyak Anak yang Terdampak?
Kementerian Kesehatan RI mencatat 113.336 kasus ISPA akibat karhutla hingga 9 September 2026 di tujuh provinsi terdampak. Sebanyak 26.545 kasus di antaranya terjadi pada balita.
Di Riau, tercatat 10.783 kasus ISPA sepanjang Agustus-September 2026. Kelompok anak usia 0-9 tahun menjadi yang paling banyak terinfeksi.
Kalimantan Selatan melaporkan 524 kasus pneumonia selama periode kemarau dan karhutla. ASEAN bahkan menetapkan status Siaga Alert Level 3 sejak 26 Agustus 2026.
Mengapa Asap Karhutla Berbahaya untuk Paru-Paru Anak?
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang bisa masuk jauh ke saluran pernapasan. Partikel berukuran sangat kecil ini bahkan dapat menembus aliran darah.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp Kardio(K), menegaskan dampaknya tidak bisa diabaikan.
"Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan anak dan kelompok rentan," ujar Piprim dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom.
Sistem pernapasan dan kekebalan tubuh anak masih dalam tahap perkembangan. Itulah sebabnya paparan asap dalam waktu lama bisa memicu infeksi serius seperti pneumonia.
Tanda Anak Perlu Segera Dibawa ke Dokter
Bunda perlu waspada jika si kecil menunjukkan gejala berikut selama periode kabut asap:
- Sesak napas atau napas cepat dan dangkal
- Batuk berdahak yang tak kunjung membaik
- Demam tinggi disertai lemas
- Nyeri dada atau bibir kebiruan
- Mata perih, hidung tersumbat, atau tenggorokan sakit berkepanjangan
Bayi di bawah satu tahun dan anak dengan riwayat asma atau alergi masuk kelompok paling rentan. Jangan tunda konsultasi ke dokter anak jika gejala memburuk.
Cara Melindungi Anak dari Paparan Asap
Selama kualitas udara belum membaik, ada beberapa langkah yang bisa Bunda lakukan di rumah:
- Batasi aktivitas luar ruangan, terutama pagi hari saat polusi memuncak
- Tutup jendela dan gunakan air purifier di kamar anak
- Pastikan anak minum cukup air untuk menjaga kelembapan saluran napas
- Gunakan masker khusus anak jika terpaksa keluar rumah
- Jauhkan anak dari asap rokok dan sumber polusi dalam ruangan
Pantau kualitas udara harian di wilayah Bunda. Jika indeks ISPU masuk kategori tidak sehat, sebaiknya anak tetap di dalam rumah.
Lonjakan pneumonia anak akibat karhutla ini jadi pengingat bahwa kualitas udara adalah urusan kesehatan keluarga. Dengan memantau gejala sejak dini dan menjaga lingkungan dalam ruangan tetap bersih, Bunda bisa mengurangi risiko si kecil terpapar partikel berbahaya.