NUSA TENGGARA BARAT — Bridgestone Tire Indonesia mencatat pasar ban semester I 2026 masih naik empat persen, tetapi mulai melambat pada Juli-September. Perlambatan itu membuat sebagian pemilik mobil menunda penggantian ban, bahkan ketika tapak sudah aus hingga kawat terlihat. Presiden Direktur Bridgestone Tire Indonesia Mukiat Sutikno menyebut fenomena itu sebagai sinyal bahaya.
Pasar ban nasional sebenarnya masih mencatat pertumbuhan pada paruh pertama 2026. Bridgestone Tire Indonesia melaporkan kenaikan sekitar empat persen dibanding semester I 2025. Angka itu disampaikan Presiden Direktur Bridgestone Tire Indonesia, Mukiat Sutikno, di PIK2, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Momentum libur Lebaran menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut. Masyarakat meningkatkan pengeluaran untuk mudik dan perjalanan wisata pada periode itu. Namun, kondisi mulai berbalik sejak Juli.
Perlambatan Pasar Mulai Terasa Juli-September
Mukiat menyebut pasar ban memasuki fase melambat pada semester kedua 2026. "Tapi di semester kedua 2026, mulai Juli, Agustus, September ini, kita ada lihat ada market yang bisa dikatakan cukup slow down. Jadi ada pelemahan pasar, dibandingkan semester kedua 2025," katanya.
Faktor musiman menjadi salah satu penyebab. Liburan sekolah dan tahun ajaran baru mengalihkan pengeluaran rumah tangga ke kebutuhan pendidikan. Uang buku dan biaya sekolah membuat belanja konsumsi lain, termasuk ban, ikut tertekan.
Kondisi ekonomi global memperkuat tekanan tersebut. Meski Indonesia tidak berada dalam pusaran konflik, dampaknya tetap terasa hingga pasar domestik. "Ekonomi impact tentu terasa sampai sini," ujar Mukiat.
Ban Botak hingga Kawat Muncul Ditemukan di Mobil Premium
Pelemahan daya beli paling jelas terlihat dari perilaku konsumen di bengkel. Pemilik mobil memilih memperpanjang usia pakai ban sebelum menggantinya. Mukiat menyebut peringatan mekanik soal kondisi ban kerap diabaikan.
Ia menceritakan pengalaman saat mengunjungi sebuah toko ban. Ada mobil dengan tapak sudah botak dan kawat terlihat. Pemiliknya berjanji kembali dalam satu-dua bulan, tetapi baru datang tiga sampai empat bulan kemudian.
"Kebetulan pas saya visit ke toko, sampai saya bilang 'Ini ban mobil apa? saya sudah lihat (mobilnya) di depan, tapi saya nggak percaya. Karena kondisi bannya cukup botak, kawatnya ada yang keluar'," tutur Mukiat.
Fenomena itu tidak hanya terjadi pada mobil murah. Mukiat menyebut mobil premium pun ditemukan masih memakai ban yang sudah sangat aus. Temuan tersebut menunjukkan konsumen kini lebih berhati-hati mengatur pengeluaran, meski harus mengorbankan keselamatan.
Ban Komponen Krusial yang Sering Diabaikan
Ban adalah satu-satunya bagian mobil yang bersentuhan langsung dengan permukaan jalan. Daya cengkeram, jarak pengereman, dan stabilitas kendaraan bergantung pada kondisi tapak. Ketika kawat sudah terlihat, kemampuan ban menahan gesekan turun drastis.
Peringatan dari bengkel saat servis spooring atau balancing sebaiknya tidak diabaikan. Mukiat menegaskan cengkeraman paling utama ada di ban. Menunda penggantian saat kondisi sudah tidak layak berarti mengambil risiko yang tidak sebanding dengan penghematan.
Bagi pemilik mobil, pengecekan tapak ban secara berkala menjadi langkah paling murah. Kedalaman tapak bisa dicek dengan alat ukur sederhana di bengkel terdekat. Jika sudah mendekati batas aman, penggantian tidak lagi bisa ditunda.