Pencarian

Rupiah Melemah 0,78% ke Rp17.855, BI Siapkan Intervensi Berlapis

Jumat, 25 September 2026 • 08:04:31 WIB
Rupiah Melemah 0,78% ke Rp17.855, BI Siapkan Intervensi Berlapis
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Rabu (23/9).

NUSA TENGGARA BARAT — Rupiah ditutup di Rp17.855 per dolar AS per 22 September 2026, melemah terbatas 0,78 persen dibandingkan akhir Agustus. Bank Indonesia menyiapkan intervensi pasar valas berlapis dan menaikkan insentif swap lindung nilai untuk menahan tekanan eksternal. Ketegangan geopolitik Timur Tengah dan suku bunga Federal Reserve yang masih tinggi menjadi pemicu utama.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengungkapkan pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. BI menegaskan fundamental domestik masih solid dan menjadi bantalan utama stabilitas nilai tukar ke depan.

"Rupiah per 22 September tercatat Rp17.855 per dolar AS, melemah terbatas 0,78 persen dibandingkan akhir Agustus 2026," kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (23/9).

Perang Timur Tengah dan Suku Bunga AS Jadi Pemicu

Tekanan terhadap rupiah bersumber dari dua faktor eksternal yang saling menguatkan. Meningkatnya tensi perang di Timur Tengah mendorong kenaikan harga komoditas dan memperbesar risiko terhadap perekonomian global.

Dari sisi moneter, suku bunga acuan Federal Reserve berada di kisaran 3,75-4 persen pada September 2026 dan masih berpotensi naik lagi. Kondisi itu menaikkan yield obligasi pemerintah AS, sehingga aliran modal ke negara berkembang tertahan dan dolar AS semakin perkasa.

Lima Lapis Strategi BI Jaga Nilai Tukar

Bank Indonesia menyiapkan respons berlapis untuk menjaga stabilitas rupiah. Intervensi dilakukan di dua pasar sekaligus, yaitu pasar offshore dan domestik.

  • Intervensi pasar offshore melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF)
  • Intervensi pasar domestik melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)
  • Insentif Swap Beli Lindung Nilai dengan underlying pendanaan eksternal
  • Insentif transaksi DNDF lindung nilai
  • Insentif transaksi dalam kerangka Local Currency Transaction (LCT)

"Bank Indonesia akan terus memperkuat berbagai strategi dengan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," tegas Destry.

Insentif Swap Lindung Nilai Naik, Tenor 12 Bulan Jadi 25%

Mulai September 2026, BI menaikkan insentif untuk transaksi Swap Beli Lindung Nilai dengan underlying pendanaan eksternal. Cakupannya meliputi aliran modal portofolio, pinjaman luar negeri perbankan, dan investasi langsung asing.

Insentif tersebut kini menjadi 15 persen untuk tenor tiga bulan, 20 persen untuk tenor enam bulan, dan 25 persen untuk tenor 12 bulan. Sebelumnya, seluruh tenor hanya mendapat insentif 12,5 persen.

Untuk transaksi DNDF lindung nilai, insentif dinaikkan menjadi 25 persen untuk tenor enam bulan dan 30 persen untuk tenor 12 bulan, dari sebelumnya 15 persen. BI juga tetap memberikan tambahan premi swap 10 persen dan pengurangan premi DNDF 10 persen untuk transaksi dalam kerangka Local Currency Transaction (LCT).

Proyeksi BI: Rupiah Bergerak Stabil

Destry memperkirakan pergerakan rupiah ke depan tetap stabil, ditopang fundamental domestik dan bauran kebijakan bank sentral. Imbal hasil yang menarik, inflasi terkendali, dan prospek ekonomi yang baik menjadi tiga penopang utama.

"Ke depan BI perkirakan rupiah akan bergerak stabil didukung oleh komitmen BI serta imbal hasil menarik, inflasi terkendali dan prospek ekonomi yang tetap baik," ujarnya.

Penguatan respons kebijakan dinilai perlu untuk menjaga ketahanan eksternal Indonesia. Destry menekankan sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci menghadapi ketidakpastian global yang masih tinggi.

"Kondisi ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal," pungkasnya.

Follow www.lombok24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks