MATARAM — Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTB, Izzudin Mahali, menilai kinerja Bank NTB Syariah sepanjang 2025 harus dibaca secara utuh. Tekanan yang tampak di laporan keuangan tidak semuanya berasal dari kondisi bisnis tahun berjalan, melainkan turut dipengaruhi persoalan yang terbentuk dari periode sebelumnya.
Karena itu, ia menyebut pembenahan tidak cukup berhenti di angka-angka keuangan. Ada pekerjaan lebih dalam yang harus diselesaikan lebih dulu.
Mengapa Angka Keuangan Saja Tidak Cukup
Izzudin menjelaskan, dalam kerangka corporate turnaround, perbaikan fundamental menjadi syarat utama. Cakupannya meliputi penguatan corporate governance, manajemen risiko, pengendalian internal, kualitas aset, hingga disiplin proses bisnis.
Ia menegaskan penguatan tata kelola bukan langkah untuk menyalahkan periode sebelumnya. Kondisi yang ada justru dipakai sebagai baseline untuk konsolidasi dan perbaikan kelembagaan secara terukur.
"Bank yang sehat tidak hanya dilihat dari pertumbuhan aset dan pembiayaan, tetapi juga dari kualitas tata kelola, manajemen risiko, kualitas pembiayaan, efisiensi, permodalan, likuiditas, serta kemampuan menghasilkan laba secara berkelanjutan," katanya.
Prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan kewajaran disebut terus menjadi bagian dari penerapan Good Corporate Governance di bank milik daerah tersebut.
Dua Fase Awal: Pulihkan Fundamental, Lalu Restrukturisasi Bisnis
Tahap pertama transformasi diarahkan pada pemulihan. Targetnya memastikan fundamental bank kembali sehat dan terkendali.
Fokus tahap ini mencakup penyelesaian kualitas aset dan pembiayaan bermasalah, penguatan likuiditas dan permodalan, peningkatan efektivitas pengendalian internal, penguatan manajemen risiko, serta pemulihan kepercayaan nasabah.
Tahap berikutnya masuk ke revitalisasi dan restrukturisasi. Perbaikan menyentuh model bisnis, produktivitas sumber daya manusia, layanan digital, perluasan pembiayaan produktif, hingga pembangunan budaya kerja yang lebih prudent dan berorientasi kinerja.
Sejumlah pekerjaan rumah masih menonjol dari kinerja 2025, terutama pada aspek pembiayaan produktif, profitabilitas, efisiensi, dan kualitas aset. Meski begitu, Bank NTB Syariah dinilai tetap punya basis usaha besar dengan aset yang terus tumbuh.
Peta Jalan 2025–2029: dari Recovery hingga Financial Holding
Transformasi Bank NTB Syariah diarahkan melalui roadmap jangka menengah yang terdiri atas beberapa tahapan.
- 2025–2026 — Recovery & Fundamental Strengthening. Pemulihan fundamental bank, penguatan governance, risk management, internal control, kualitas aset, keamanan digital, serta efisiensi.
- 2026–2027 — Revitalization & Restructuring. Restrukturisasi model bisnis, penguatan pembiayaan produktif, peningkatan Current Account Savings Account (CASA), penguatan digital banking, dan peningkatan produktivitas organisasi.
- 2027 — Target Bank Devisa. Penyiapan langkah menuju status bank devisa dengan tetap memenuhi seluruh persyaratan dan ketentuan regulator.
- 2028 — Target Tbk dan IPO. Persiapan menjadi perusahaan terbuka dan initial public offering apabila kesiapan fundamental, permodalan, tata kelola, serta seluruh persyaratan regulator dan pasar modal terpenuhi.
- 2029 — Financial Holding. Pengembangan ekosistem keuangan daerah melalui integrasi dan sinergi BUMD sektor keuangan dalam kerangka financial holding, sesuai ketentuan dan kajian kelembagaan yang berlaku.
Bank Daerah sebagai Instrumen Ekonomi, Bukan Sekadar Bertahan
Izzudin menegaskan roadmap tersebut bukan semata target korporasi. Peta jalan itu disebut bagian dari agenda transformasi ekonomi daerah.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal sejak akhir 2025 menempatkan penguatan BUMD, termasuk Bank NTB Syariah, sebagai bagian dari agenda peningkatan kapasitas ekonomi daerah.
"Orientasi beliau jelas, bagaimana BUMD tidak hanya menjadi entitas yang bertahan, tetapi menjadi instrumen ekonomi daerah yang sehat, profesional, kompetitif, dan mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat," katanya.
Peran pemerintah daerah berada pada aspek arah kebijakan, pembinaan, dan pengawasan sesuai kewenangan sebagai pemegang saham. Keputusan bisnis dan operasional tetap dijalankan organ bank secara profesional serta tunduk pada ketentuan regulator.
Keberhasilan corporate turnaround Bank NTB Syariah, menurutnya, tidak hanya ditandai pulihnya laba. Yang dibidik adalah terbentuknya bank yang lebih sehat dengan tata kelola yang semakin kuat — sejalan dengan semangat "Recover Stronger, Transform Better, Grow Sustainably".