PRAYA — Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Hj. Sinta Agathia M. Iqbal, menyampaikan rasa syukur atas dibukanya kembali gerai tersebut. Menurutnya, kehadiran Bale Kita di BIZAM merupakan hasil kerja bersama antara Dekranasda, pengelola bandara, Bale Kita, serta para perajin dan pelaku UMKM.
"Bismillah, Bale KITA mulai hari ini hadir kembali di BIZAM-Praya, Departure Gate. Another mission accomplished," ungkap Hj. Sinta.
Lokasi bandara dinilai punya daya tarik tersendiri sebagai etalase produk daerah. Setiap hari, BIZAM menjadi titik temu masyarakat dari berbagai wilayah, termasuk wisatawan yang berkunjung ke Lombok maupun melanjutkan perjalanan ke sejumlah daerah dan negara.
Gerai Bale Kita menampilkan beragam produk unggulan NTB. Mulai dari kain tenun dan songket tradisional, busana serta aksesori berbahan tenun, kerajinan cukli, produk rotan dan anyaman, hingga kriya, suvenir, dan kerajinan berbahan alam.
Setiap produk merepresentasikan kreativitas perajin dari Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Karakter, motif, bahan, serta nilai budaya yang melekat pada tiap karya berbeda satu sama lain.
Di balik setiap karya tersimpan cerita tentang tradisi, keterampilan, dan identitas masyarakat NTB. Pemasaran kerajinan pun tidak sekadar menyangkut nilai ekonomi, tetapi juga menjadi jalan memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas.
Kehadiran Bale Kita di BIZAM merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi NTB bersama Dekranasda memperluas akses pasar dan memperkuat daya saing UMKM. Sinta menegaskan, terbukanya akses pemasaran perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas produk, kreativitas desain, konsistensi mutu, serta kemampuan pelaku usaha memahami kebutuhan konsumen.
Dengan begitu, produk kerajinan NTB diharapkan tidak hanya diminati karena keunikan budaya dan nilai tradisionalnya. Produk tersebut juga dituntut mampu bersaing sebagai produk kreatif yang memiliki nilai tambah.
"Kami berharap Bale Kita di BIZAM menjadi pintu yang semakin terbuka bagi produk kerajinan UMKM NTB untuk dikenal lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Semakin luas pasar yang dijangkau, semakin besar pula peluang bagi para perajin untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya," ujarnya.
Pengembangan pemasaran produk lokal, menurut Sinta, membutuhkan ekosistem yang berkelanjutan. Dukungan pemerintah, kreativitas perajin, kolaborasi berbagai pihak, dan ketersediaan akses pasar harus berjalan beriringan agar UMKM dapat tumbuh dan berkembang.
Melalui Bale Kita, karya perajin NTB diharapkan semakin mudah dijangkau konsumen sekaligus memperoleh kesempatan menembus pasar yang lebih luas.
"Pada akhirnya, yang ingin kita bangun bukan hanya tempat menjual produk, melainkan kesempatan agar karya perajin NTB semakin dihargai, usaha mereka semakin berkembang, dan kesejahteraan keluarga mereka semakin meningkat. Inilah ikhtiar kita bersama untuk mewujudkan NTB Makmur Mendunia," pungkas Sinta.