MATARAM — Perjalanan hidup Benjamin Franklin bermula dari keluarga sederhana dengan pendidikan formal yang terbatas. Pada usia 12 tahun, ia bekerja sekaligus belajar di percetakan milik kakaknya, James Franklin. Dari ruang kerja itulah kemampuan menulis dan daya kritisnya tumbuh, sebelum ia menerbitkan Pennsylvania Gazette dan Poor Richard's Almanack yang mengangkat namanya di koloni-koloni Amerika.
Franklin tidak berhenti pada dunia tulisan. Ia mendirikan Junto, kelompok diskusi yang menjadi wadah pertukaran gagasan bagi warga Philadelphia. Dari situ lahir sejumlah lembaga yang bertahan lama: Library Company of Philadelphia, perusahaan pemadam kebakaran, rumah sakit, hingga lembaga pendidikan yang berkembang menjadi University of Pennsylvania.
Baginya, pengetahuan punya satu fungsi utama, yakni memperbaiki kehidupan masyarakat. Prinsip itu ia pegang konsisten, bahkan ketika ia memilih tidak mematenkan sebagian besar temuannya.
Nama Franklin melekat kuat pada penelitian listrik. Eksperimen layang-layangnya memperkuat pemahaman tentang hubungan antara petir dan listrik, yang kemudian mengantar pada pengembangan penangkal petir. Ia juga dikenal lewat Franklin stove, kacamata bifokal, kateter fleksibel, dan harmonika kaca.
Franklin menolak mematenkan sebagian besar penemuannya. Alasannya sederhana: ilmu pengetahuan semestinya memberi manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat.
Karier Franklin bergeser ke dunia politik ketika ia menjabat wakil kepala kantor pos untuk koloni-koloni Amerika. Ia terlibat dalam perlawanan terhadap kebijakan Inggris, termasuk Stamp Act. Ketika perjuangan kemerdekaan menguat, Franklin duduk di Second Continental Congress dan masuk dalam Committee of Five yang menyusun Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat.
Pada 1776, ia dikirim ke Prancis untuk mencari dukungan bagi perjuangan Amerika. Upaya diplomasinya membuahkan hasil melalui aliansi pada 1778. Franklin juga terlibat dalam perundingan yang menghasilkan Treaty of Paris pada 1783, yang mengakhiri Perang Revolusi Amerika.
Setelah pulang ke Amerika, Franklin menjabat sebagai Presiden Pennsylvania pada 1785 hingga 1788. Ia turut serta dalam Konvensi Konstitusional 1787, salah satu tonggak pembentukan sistem pemerintahan Amerika Serikat.
Pandangan Franklin soal perbudakan berubah seiring waktu. Ia pernah memiliki budak, tetapi kemudian menjadi penentang keras praktik itu. Pada masa akhir hidupnya, ia aktif dalam gerakan abolisionis dan memimpin Pennsylvania Society for Promoting the Abolition of Slavery.
Franklin dikenal karena gagasannya mengenai 13 kebajikan, mulai dari pengendalian diri, keheningan, keteraturan, keteguhan hati, hidup hemat, kerja keras, ketulusan, keadilan, kesederhanaan, kebersihan, ketenangan, kesucian, hingga kerendahan hati. Ia menjadikan daftar itu sebagai pedoman membentuk karakter pribadi.
Franklin meninggal pada 17 April 1790 di Philadelphia. Ribuan orang menghadiri pemakamannya, dan ia dimakamkan di Christ Church Burial Ground. Hingga kini, kisah hidupnya menunjukkan bagaimana pendidikan mandiri, rasa ingin tahu, kerja keras, dan kepedulian terhadap masyarakat dapat membentuk tokoh yang pengaruhnya melampaui zamannya.