MATARAM — Kepala BPS NTB Wahyudin menyebut lonjakan ekspor terjadi pada periode Januari–Agustus 2026. Angka tersebut tercatat jauh di atas capaian periode yang sama tahun sebelumnya.
"Angka tersebut melonjak 296,28 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025," ujar Wahyudin, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Pada Agustus 2026 saja, ekspor NTB tercatat US$172,92 juta. Nilai itu tumbuh 68,41 persen secara tahunan.
Berbanding terbalik dengan ekspor, impor NTB justru anjlok 95,22 persen. Nilai impor hanya tersisa US$0,81 juta.
Selisih tajam antara ekspor dan impor membuat neraca perdagangan NTB berada di posisi surplus besar. Kondisi ini menandakan pasokan barang dari luar daerah ke NTB menyusut drastis.
Sektor pariwisata ikut mencatatkan pertumbuhan. Tingkat Penghunian Kamar hotel bintang di NTB pada Agustus 2026 mencapai 51,79 persen.
Kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) naik 4,40 persen secara bulanan. Jumlahnya mencapai 9.437 orang.
Angka kunjungan itu menjadi indikator bahwa arus wisatawan ke NTB mulai kembali menggeliat. Bandara BIZAM menjadi pintu masuk utama wisman ke kawasan Lombok dan sekitarnya.
Aktivitas transportasi laut juga menunjukkan tren positif. Arus kedatangan penumpang tumbuh 3,61 persen, sedangkan keberangkatan naik 7,68 persen.
Pembongkaran barang di pelabuhan meningkat 20,08 persen. Kenaikan ini menandakan aktivitas bongkar muat barang di NTB berjalan lebih ramai dibanding periode sebelumnya.
Penguatan arus logistik laut berkaitan erat dengan kebutuhan pasokan barang antarwilayah. NTB masih bergantung pada jalur laut untuk mendatangkan sejumlah komoditas dari luar daerah.
Dari sektor pertanian, Nilai Tukar Petani NTB berada di level 128,63. Angka di atas 100 menunjukkan daya beli petani masih berada pada posisi positif.
NTP di atas 100 berarti harga yang diterima petani lebih tinggi dibanding harga yang dibayarkan untuk konsumsi dan biaya produksi. Posisi ini menandakan kesejahteraan petani relatif terjaga.
Sektor pertanian masih menjadi penopang utama ekonomi NTB. Sebagian besar penduduk provinsi ini menggantungkan penghidupan dari budidaya tanaman pangan dan perkebunan.
Inflasi NTB pada September 2026 tetap terkendali sebesar 0,36 persen secara bulanan. Secara year to date, inflasi tercatat 2,72 persen.
Angka itu menunjukkan kenaikan harga barang dan jasa di NTB masih dalam rentang aman. Pemerintah daerah biasanya menjaga inflasi agar tidak menggerus daya beli warga.
Kombinasi ekspor yang melonjak, impor yang menciut, dan inflasi yang stabil memberi gambaran awal soal arah ekonomi NTB hingga akhir 2026. BPS NTB akan merilis data periode berikutnya untuk melihat apakah tren ini berlanjut.