Tinju Gagal Sumbang Medali di Asian Games 2026, Perbati Akui Kekurangan Pelatih Fisik

Penulis: Mardian Syah  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 20:32:31 WIB
Petinju Indonesia Maikhel Muskita beraksi di babak perempatfinal Asian Games 2026.

NUSA TENGGARA BARAT — Perbati mengakui tim tinju Indonesia pulang tanpa medali dari Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, dengan capaian terbaik hanya sampai perempatfinal. Kekalahan kontroversial Maikhel Muskita dari Minseong Kim asal Korea Selatan menjadi pukulan terakhir, sementara pengurus menyoroti absennya pelatih fisik dalam persiapan.

Lima petinju dikirim ke Jepang: Nabila Maharani (54kg), Huswatun Hasanah (65kg), Jill Mandagie (55kg), Asri Udin (60kg), dan Maikhel Muskita (80kg). Tak satu pun mampu menembus semifinal, hasil yang jauh dari target kontingen Indonesia di ajang multicabang terbesar Asia itu.

Maikhel Muskita Kalah Tipis di Perempatfinal

Maikhel menjadi harapan terakhir tinju Indonesia. Ia bertemu Minseong Kim dari Korea Selatan di babak perempatfinal, laga yang berjalan ketat hingga ronde ketiga.

Dari lima juri, hanya satu yang memilih Maikhel. Empat lainnya memberi kemenangan kepada Kim, keputusan yang langsung menuai protes dari petinju asal Papua tersebut.

"Pasti sebagai atlet, kami saat bertanding juga, pas keputusan itu, saya yakin menang. Sebab, di ronde ketiga, saya push lawan cuma keputusan-keputusan wasit itu menilai saya kalah," kata Maikhel.

Kekecewaannya bukan tanpa alasan. Maikhel menyebut persiapan panjang yang mengorbankan waktu bersama keluarga dan pekerjaan seakan sia-sia karena keputusan di atas ring.

"Saya sangat-sangat kecewa karena latihan kan bukan satu hari saja. Butuh waktu yang harus kita korbankan, orang tua, kerja, segala macam dan memang hati sudah buat tinju," ujarnya.

Perbati Akui Absennya Pelatih Fisik di Persiapan

Sekretaris Jenderal Perbati Hengky Silatang angkat bicara soal penyebab kegagalan. Ia menilai kualitas teknis petinju Indonesia sebenarnya tak jauh tertinggal dari negara-negara yang rutin melahirkan juara olimpiade.

Masalahnya ada pada pendampingan fisik. Hengky mengakui tim tidak memiliki pelatih fisik khusus selama persiapan menuju Asian Games.

"Secara kualitas kami tidak tertinggal dengan negara-negara yang banyaknya juara-juara olimpiade. Hanya memang mesti training center berkepanjangan, dan evaluasinya paling tidak ada khusus pelatih fisik untuk menangani si atlet," kata Hengky.

Ia juga menyoroti faktor nonteknis yang memengaruhi performa atlet selama bertanding. Menurutnya, pembenahan harus menyentuh seluruh unsur, termasuk jajaran pengurus.

Target Berikutnya: Olimpiade dan SEA Games Malaysia

Hengky tidak melempar kesalahan ke satu pihak. Ia menyatakan diri turut bertanggung jawab atas hasil ini dan menyebutnya sebagai cambuk untuk berbenah.

"Kami tidak menyalahkan kesemuanya. Saya sebagai pengurus juga bertanggung jawab dan ini adalah cambuk untuk bisa berbicara. Karena targetnya paling tidak (ke depan) bisa lolos di Olimpiade, selain nanti SEA Games di Malaysia," ujarnya.

Dari sisi atlet, Maikhel menyatakan siap belajar dari kekalahan. Ia berharap ada perbaikan menyeluruh di tubuh Perbati agar hasil tinju Indonesia bisa lebih baik di kejuaraan berikutnya.

"Ya ke depan belajar dari kesalahan juga bersama pengurus juga, supaya kami bisa upgrade yang maksimal," tegas Maikhel.

Perbati kini dihadapkan pada pekerjaan rumah besar: membenahi struktur kepelatihan, menyiapkan training center berkelanjutan, dan memastikan atlet mendapat pendampingan fisik yang memadai sebelum SEA Games Malaysia dan jalur kualifikasi Olimpiade dibuka.

Reporter: Mardian Syah
Sumber: sport.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top