NUSA TENGGARA BARAT — Guru Besar Universitas Pertamina menilai Indonesia tidak perlu meniru strategi kendaraan listrik sepenuhnya ala China dan Eropa. Kondisi geografis tropis dan kekayaan bahan bakar nabati cair memberi posisi tawar unik yang tidak dimiliki negara sub-tropis. Pendekatan multipathway dinilai lebih realistis untuk transisi energi otomotif nasional.
Pandangan itu disampaikan Iman Kartolaksono Reksowardojo dalam forum Evolution Forum bertema "Powering Indonesia Future: Green Cars, Blue Skies". Ia menyoroti bahwa negara-negara yang jadi kiblat teknologi otomotif dunia berada di kawasan sub-tropis dengan karakter sumber daya yang berbeda jauh dari Indonesia.
Iman menegaskan keunggulan Indonesia dalam produksi bahan bakar nabati cair sudah terbukti secara nyata. Negara sub-tropis tidak memiliki kekayaan alam sebesar Indonesia untuk mengembangkan sektor ini.
"China, Amerika, Jepang, Eropa itu kan di sub-tropis. Mereka tidak punya kekayaan alam untuk bahan bakar nabati cair ya sehebat Indonesia yang kita sudah buktikan bahwa nomor satu. Jadi kita harus multipathway itu pesan saya," ujar Iman dalam forum tersebut.
Alih-alih memaksakan satu solusi tunggal, Iman mendorong pendekatan multipathway yang memberi ruang bagi beragam teknologi untuk berkembang berdampingan. Mesin pembakaran dalam yang efisien, kendaraan hibrida, kendaraan listrik, hingga biofuel dinilai perlu berjalan paralel menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan dalam negeri.
"Nah, jadi arahnya bukan 100 persen EV gitu. Tidak, tapi multipathway, istilahnya, bahasa kerennya gitu-gitu ya. Masih ada yang pakai ICE, ada yang ICE yang efisien. Kemudian ICE itu internal combustion engine. Kemudian ada hybrid, ada EV, dan ada biofuel atau itu kombinasi itu begitu. Jadi kita tidak harus berkiblat ke China atau ke Eropa karena kalau kita lihat Indonesia tuh punya posisi yang unik gitu ya," katanya.
Iman menyoroti pentingnya pengembangan sumber daya manusia dalam negeri agar industri otomotif nasional tidak sekadar mengejar pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri secara formalitas. Kemampuan menangani teknologi secara mandiri dinilai lebih krusial ketimbang sekadar memenuhi target administratif.
"Nah kita juga harus mengembangkan itu bukan cuma untuk istilah sekarang TKDN gitu untuk dijual tapi sumber daya manusianya kita harus bisa menangani itu sendiri begitu ya," lanjutnya.
Berdasarkan pengalaman lebih dari dua dekade di bidang bahan bakar nabati, Iman menilai hambatan terbesar penerapan biofuel di negara berkembang bukan pada aspek teknis. Dinamika sosial, ekonomi, dan politik justru menjadi penghalang utama yang jauh lebih rumit diatasi.
"Teknis sebetulnya saya pengalaman saya 20 tahun itu ya bisalah pasti kan banyak orang pintar ya. Tapi yang susah tadi sosial, politik, ekonomi gitu ya. Jadi dan pengalaman saya 20 tahun lebih itu supaya bisa jalan itu mandatorinya itu ya kebijakan," tutupnya.
Keberhasilan Indonesia dalam implementasi biodiesel disebut sebagai bukti bahwa regulasi kuat, dukungan pendanaan, serta peran aktif pelaku usaha menjadi kunci. Pembelajaran dari program biodiesel dan bioetanol diharapkan bisa diterapkan pada strategi transisi energi otomotif nasional agar lebih mandiri dan berkelanjutan.