Sanur Bali: Dari Kampung Nelayan ke Wisata Kelas Dunia, Banjar Masih Bertahan

Penulis: Khoirul Anwar  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 18:18:31 WIB
Pantai Sanur, Denpasar, Bali, yang dahulu menjadi kawasan kampung nelayan dan petani.

NUSA TENGGARA BARAT — Sanur di Denpasar, Bali, berubah dari kampung nelayan dan petani menjadi destinasi wisata kelas dunia sejak Bali Beach Hotel berdiri pada 1966. Hotel di Jalan Hang Tuah itu menjadi tonggak pariwisata modern Sanur dan satu-satunya bangunan tertinggi di Bali hingga kini. Di balik gempuran pembangunan, sejumlah banjar di Sanur masih bertahan dengan struktur warga yang nyaris tak berubah.

Bali Beach Hotel menandai titik balik besar bagi Sanur. Hotel yang diresmikan pada era Presiden Sukarno tahun 1966 itu disebut sebagai tonggak awal pariwisata modern di kawasan pesisir Denpasar ini.

Pegiat sejarah sekaligus Founder Sanur Archive, Ade Angga Bhargawa, menyebut pembangunan hotel tersebut tidak lepas dari peran Soekarno. Saat itu, Soekarno bernegosiasi dengan Jepang untuk memperoleh dana perampasan perang, serta mendapat bantuan dari Uni Soviet.

Mengapa Sanur Dipilih untuk Bali Beach Hotel

Angga mengaku belum mengetahui secara pasti alasan Sanur terpilih. Namun, dia menduga kedekatan Sanur dengan sejumlah tempat yang memiliki kaitan dengan Soekarno menjadi pertimbangan.

"Mungkin, satu, karena dia kan punya Istana Tampaksiring. Tampaksiring dan Sanur, Gianyar dan Sanur kan enggak jauh kalau dia melewati. Terus dua, dia juga suka ke rumahnya pelukis Sanur itu, si Le Mayeur. Dia sempat beberapa kali singgah ke Sanur," imbuhnya.

Jejak Kampung Nelayan dan Petani

Sebelum deretan akomodasi wisata hadir, Sanur merupakan kawasan yang banyak dihuni masyarakat nelayan dan petani. Laut dan tanah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

"Sanur ini sebenarnya daerah nelayan. Mereka tuh adalah kelompok nelayan, kelompok petani, dan segala macam," tandas Angga.

Pariwisata Sanur mulai tumbuh sekitar tahun 70-80-an. Hotel, resor, hingga restoran bermunculan di Sanur dan daerah lain di Bali pada awal 1970-an.

Banjar yang Tak Bergeser

Perubahan belum sepenuhnya menghapus karakter masyarakat Sanur. Keberadaan banjar-banjar di Sanur disebut tidak mengalami perubahan, begitu pula struktur masyarakat di masing-masing banjar.

"Posisi semua Banjar di Sanur itu kebetulan tidak ada berubah dan warga-warganya tuh masih warga Banjar itu sendiri. Tidak berkurang karena mungkin transmigrasi atau apa, justru bertambah karena terjadi angka kelahiran yang cukup bagus juga," lanjutnya.

Pohon Kelapa yang Mulai Hilang

Perubahan Sanur juga terlihat dari vegetasi pesisir. Pada akhir 1970-an hingga 1980-an, pohon kelapa masih banyak ditemukan. Memasuki awal 2000-an, jumlahnya mulai berkurang, lalu pembangunan semakin masif sekitar 2005-2010.

Bukan hanya pohon kelapa. Vegetasi lain seperti cemara laut dan pandan laut juga mulai berkurang.

"Hilangnya vegetasi beberapa banyak pohon kelapa di pinggir pantai itu ya karena perubahan pariwisata itu sendiri. Karena adanya hotel barunya, terus meningkatnya akomodasi, dan juga restoran-restoran yang semakin menjamur," tutur Angga.

Perubahan yang Sulit Dihindari

Sanur terus bergerak. Dari kawasan yang kehidupan masyarakatnya lekat dengan laut dan pertanian, kawasan ini berkembang menjadi salah satu destinasi pariwisata di Bali.

"Sanur itu sendiri menjadi tempat pariwisata itu di sekitar tahun 70-80-an, sampai detik ini juga masih terjadi perubahan dan untungnya masyarakat di sini masih bisa berusaha mempertahankan apa yang kita punya di balik gempuran peradaban," ujarnya, Sabtu (26/9/2026).

"Ya memang perubahan itu ada. Jadi enggak bisa dihindari. Suka enggak suka, mau enggak mau ya udah. Itu sih kalau menurut saya," pungkasnya.

Artikel ini telah naik di detikBali.
Reporter: Khoirul Anwar
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top