MATARAM — Angkatan kerja NTB saat ini tercatat 3,24 juta orang, sementara penduduk usia kerjanya mencapai 4,45 juta jiwa. Selisih sekitar 1 juta orang itu menjadi fokus Disnakertrans NTB untuk dicarikan jalur agar bisa masuk pasar kerja.
Menurut Aidy Furqan, besarnya jumlah usia kerja di NTB tergolong signifikan jika dibandingkan total penduduk provinsi yang sekitar 6 juta jiwa. Karena itu, penyelesaiannya membutuhkan waktu dan tidak bisa dilakukan sekaligus.
Disnakertrans NTB menjalankan pelatihan kompetensi bagi alumni SMK. Tahun ini ditargetkan 1.000 orang mengikuti pelatihan tersebut, dan hingga kini sekitar 300 orang sudah menjalani program.
Pemprov NTB juga menggandeng BP3MI melalui program SMK Go Global. Program ini diarahkan menyiapkan lulusan SMK yang punya kompetensi dan kesiapan kerja, termasuk sebagai calon pekerja migran Indonesia.
Program Magang Nasional menyasar lulusan baru atau fresh graduate. Lewat program ini, peserta diharapkan mendapat pengalaman kerja sekaligus memperbesar peluang masuk ke dunia kerja.
Selain menyasar lulusan sekolah, Pemprov NTB menjalankan Mobile Training Unit (MTU) untuk menjangkau masyarakat di tingkat desa. Pelatihan keterampilan dilakukan dengan mendatangi desa-desa yang masuk program Desa Berdaya.
"Yang kita sasar adalah penduduk usia produktif. Jangan sampai usia produktif tetapi tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka kita latih sesuai kebutuhan," kata Aidy Furqan.
Peserta MTU akan menerima surat keterangan telah mengikuti pelatihan. Dokumen itu dapat dipakai sebagai bekal mencari pekerjaan di sektor informal maupun untuk mengembangkan usaha sendiri.
Dalam statistik ketenagakerjaan Indonesia, penduduk usia kerja adalah mereka yang berumur 15 tahun ke atas. Sementara angkatan kerja adalah bagian dari penduduk usia kerja yang sedang bekerja atau mencari pekerjaan.
Aidy Furqan menyebut besarnya jumlah usia kerja di NTB sebagai tantangan sekaligus peluang. Pemerintah memastikan penduduk usia produktif memiliki keterampilan agar dapat masuk pasar kerja, membuka usaha, atau memanfaatkan peluang kerja di dalam maupun luar negeri.
"Untuk menyelesaikan yang satu juta ini tentu butuh waktu. Ini pekerjaan yang tidak mudah dan tidak bisa cepat," ujarnya.