NUSA TENGGARA BARAT — Penyanyi-penulis lagu Lawrence Rothman merilis album ketiga berjudul Here Lies Love / Sawdust to Stardust melalui label KRO Records. Album berisi 13 trek itu menutup trilogi yang dimulai sejak Good Morning, America pada 2021 dan dilanjutkan The Plow That Broke the Plains pada 2024. Rothman menyebut keterlibatan sejumlah penulis lagu perempuan sebagai benang merah proyek ini.
Lawrence Rothman mengakui dirinya lama menolak dikotak-kotakkan dalam satu genre. Namun semakin dalam ia berkecimpung di kancah Americana, baik lewat proyek pribadi maupun saat memproduseri musisi seperti Amanda Shires dan Maggie Rose, semakin ia menerima label itu.
"Americana, bagiku, di 2026 adalah segala hal yang berkaitan dengan musik Amerika yang hebat, digulung jadi satu," kata Rothman. "Ada soul, R&B, singer-songwriter, folk, country, rock. Bahkan ada sedikit punk rock. Bagiku, di situlah tempat untuk mengidentifikasi cara aku berkarya."
Album ini lahir dari gagasan yang muncul tak lama setelah Rothman pindah ke Nashville selama pandemi dan mulai terhubung dengan komunitas Americana setempat.
Rothman mengaku obsesif soal format trilogi. Ia menyebut trilogi Rosy Crucifixion karya Henry Miller berjudul Sexus, Plexus, dan Nexus sebagai pemicunya.
"Aku selalu suka trilogi," ujar Rothman. "Henry Miller, salah satu penulis favoritku, punya seri Sexus, Plexus, dan Nexus. Itu hal berat pertama yang kubaca sebagai remaja. Umurku mungkin 17 tahun, 400 sampai 500 halaman, dan aku menyukainya. Setelah itu, begitu aku jadi penulis lagu dan punya kontrak rekaman, aku berpikir suatu hari aku ingin membuat seri album seperti yang dilakukan Henry Miller."
Album ini melanjutkan The Plow That Broke the Plains dengan tema trauma generasi, penghancuran diri, dan kehidupan di era yang didominasi politik serta kecerdasan buatan.
Here Lies Love / Sawdust to Stardust melibatkan sejumlah penulis lagu dalam proses penciptaannya, termasuk Madi Diaz, Katie Pruitt, dan Amanda Shires. Pruitt dan Shires tercatat sebagai kontributor berulang dalam trilogi Rothman.
Shires menjadi simpul yang mengikat ketiga album. Pada 2021, keduanya menyanyikan "Thrash the West" di album Good Morning, America. Lagu itu menjadi saluran kecemasan dan depresi Rothman, lengkap dengan lirik seperti "karma came and bit us in the ass".
Untuk album terbaru, Rothman menulis "Karmakaze" bersama Jillian Jaqueline. Lagu itu kemudian menjadi paruh kedua dari "Thrash the West".
"Aku belum kenal Amanda saat menulis 'Thrash the West'," kenang Rothman. "Itu pertemuan pertama kami, dan kami langsung cocok sebagai teman dan kolaborator. Aku sudah punya 'Karmakaze' mengambang cukup lama, dan sempat ingin memberikannya padanya agar ia menggarapnya sendiri. Tapi aku tahan dan menyelesaikannya untuk album ini. Aku punya satu verse, judulnya 'Kamikaze', tapi akhirnya aku sadar aku sedang menulis tentang karma."
Pada musim panas lalu, Rothman merilis video untuk "Karmakaze". Video itu disutradarai oleh istri sekaligus mitra kreatifnya, Floria Sigismondi.
Dalam video tersebut, Rothman membawakan lagu dengan latar dinding batu terpencil di gurun. Visual itu menegaskan kecemasan sunyi dalam suaranya saat menyanyikan, "We're going down like a karmakaze, still alive but the odds against me", di atas melodi string dan perkusi yang kembali muncul berkali-kali sepanjang album.
Rothman akan menghabiskan sebagian besar September dan Oktober untuk tur album ini. Ia menyambangi sejumlah klub dan ruang rock seperti Groove di New York City serta Chief's on Broadway di Nashville.
Bagi Rothman, tampil langsung adalah motivasi terbesar dalam kariernya. Ia menilai musisi masih bisa memberi dampak langsung ke masyarakat dengan naik panggung dan menyanyikan lagu di depan orang-orang sungguhan.
"Aku memulai karier di band punk," kata Rothman. "Kami membakar replika George Bush di panggung, lalu diusir dari panggung atau dari tur. Kami membuat pernyataan soal bagaimana perasaanmu tentang cara negara dijalankan, lalu kena sensor. Sekarang, kamu bisa bilang apa saja, tapi ancamannya adalah kami sudah sangat dalam masuk ke nol dan satu. Waktu mereka khawatir soal Y2K di tahun 2000? Nah, itu terjadi, tapi baru terjadi di 2025."
"Sekarang adalah momen terbesar dalam sejarah manusia bagi musisi untuk tampil langsung, dengan tangan memegang mikrofon," lanjutnya. "Melihat sentuhan manusia dan menyaksikannya secara visual, itulah pengaruh terpenting yang bisa kami berikan sebagai musisi kepada generasi muda agar tidak terkurung dalam nol dan satu itu."
Album ini menambah deret rilisan Americana yang kian cair batas genrenya di pasar musik global, termasuk di kalangan pendengar Indonesia yang belakangan makin akrab dengan nama-nama seperti Shires dan Pruitt lewat platform streaming.