NUSA TENGGARA BARAT — Kampung Korod di Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, menyimpan lumbung padi tradisional Sunda yang masih berdiri kokoh di tengah kawasan persawahan. Perkampungan berisi sekitar 40 kepala keluarga ini masuk dalam rencana penataan desa wisata budaya yang digagas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Gagasan itu disampaikan saat rapat paripurna Hari Jadi ke-76 Kabupaten Bekasi pada 15 Agustus 2026.
Kampung Korod bukan nama yang muncul saat orang membicarakan kampung adat di Jawa Barat. Ciptagelar di Sukabumi atau Kampung Naga di Tasikmalaya lebih dulu dikenal. Padahal di selatan Bekasi, kehidupan agraris Sunda masih berjalan setiap hari di perkampungan ini.
Warga Kampung Korod menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Aktivitas mengelola sawah jadi pemandangan sehari-hari, sesuatu yang sebenarnya lazim ditemui di banyak wilayah lain. Yang membedakan, leuit atau lumbung padi tradisional masih berdiri di sana dan dipertahankan warga.
Leuit di Kampung Korod bukan sekadar bangunan penyimpan padi. Keberadaannya menandai kehidupan agraris masyarakat Sunda yang masih bertahan di tengah perkembangan Kabupaten Bekasi.
Tradisi gotong royong pun masih dijalankan warga. Karakter inilah yang membuat Kampung Korod dinilai potensial sebagai destinasi wisata baru, seiring rencana penataan yang sedang digodok pemerintah daerah.
Plt. Sekretaris Kecamatan Cibarusah, Wowo Fadillah, menyebut bentang alam dan aktivitas pertanian sebagai potensi utama kampung. Fungsi utama kampung sebagai lahan pertanian tidak akan dihilangkan meski nantinya dikembangkan untuk wisata.
"Sebagian besar masyarakat masih bekerja sebagai petani, sehingga persawahan ini menjadi potensi yang harus dipertahankan dan dikembangkan tanpa menghilangkan fungsi lingkungan yang sudah ada," kata Wowo, seperti dilansir laman Pemprov Jawa Barat.
Soal leuit, Wowo menegaskan bangunan itu punya nilai sejarah dan budaya. Dalam penataan nanti, keberadaannya diminta tidak sampai hilang.
"Leuit yang masih ada memiliki nilai historis dan budaya, sehingga dalam penataan nanti keberadaannya jangan sampai hilang, tetapi justru menjadi bagian dari karakter Kampung Korod," ujarnya.
Warga Kampung Korod antusias dengan rencana pengembangan wisata di wilayah mereka. Gagasan bermunculan, salah satunya membuat akses jalan yang bisa dipakai sebagai jalur wisata sekaligus olahraga sambil menyusuri persawahan.
Konsepnya mencontoh Lembur Pakuan, mulai dari pintu gerbang, menyusuri kampung, hingga berakhir di area persawahan. Jalur itu nantinya diharapkan menggerakkan ekonomi warga lewat produk kuliner lokal.
Dodol, kerupuk, dan rengginang disebut sebagai kuliner khas yang bisa dijajakan warga di sepanjang jalur.
"Kalau konsep ini berjalan, kuliner khas warga bisa ikut berkembang dan menjadi bagian dari perjalanan wisata, sehingga penataan ini juga dapat membangkitkan sektor perekonomian masyarakat Kampung Korod," kata Wowo lagi.
Di ujung jalur tersebut terdapat jembatan gantung yang dibangun lewat program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) 2026. Akses jalan itu juga akan menghubungkan Desa Ridogalih dengan Desa Wibawamulya.
Pengembangan Kampung Korod sebagai kawasan wisata menghadapi persoalan dasar. Ketersediaan air bersih jadi salah satunya. Saat kemarau panjang, sumur warga mengering sehingga warga kesulitan mendapatkan air.
Kondisi itu berdampak pula pada aktivitas pertanian. Infrastruktur dasar dan akses jalan juga masih butuh perhatian sebelum kampung ini benar-benar siap menerima kunjungan wisatawan.
"Harapannya, Kampung Korod tetap memiliki jati diri sebagai kampung Sunda, lingkungannya terjaga, potensi wisatanya berkembang, kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, dan penataan ini pada akhirnya memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan warga," pungkas Wowo.
Hingga kini belum ada informasi resmi soal tarif masuk, jam operasional, atau paket wisata Kampung Korod. Kampung ini masih berfungsi sebagai permukiman dan lahan pertanian aktif, bukan destinasi wisata yang dikelola secara komersial.
Traveler yang ingin menyambangi kawasan ini sebaiknya menunggu pengumuman resmi dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi atau Pemerintah Kecamatan Cibarusah. Informasi terkini soal akses jalan, titik parkir, dan fasilitas umum dapat dikonfirmasi ke dinas pariwisata setempat.
Jika rencana penataan berjalan sesuai gagasan warga, Kampung Korod berpeluang jadi alternatif wisata budaya Sunda yang lebih dekat dari Jakarta dibandingkan kampung adat di Sukabumi atau Tasikmalaya. Untuk sementara, kawasan ini cocok dipantau perkembangannya sebelum dijadikan tujuan perjalanan akhir pekan.