TANJUNG — Luasan areal terdampak karhutla di Bukit Setampol terus bertambah. Laporan Pusdalops-PB BPBD Provinsi NTB mencatat 589,23 hektare lahan terbakar sejak api muncul Selasa (22/9) sore. Angka itu merupakan pembaruan pertama yang dirilis otoritas penanggulangan bencana provinsi.
Lokasi kebakaran berada di kawasan tebing dengan waktu tempuh sekitar enam jam perjalanan. Kondisi cuaca di sekitar lokasi berkabut disertai angin, sehingga menyulitkan proses pemadaman.
Medan yang terjadi menjadi kendala utama. Selain jarak tempuh jauh, posisi titik api berada di area tebing yang tidak bisa dijangkau kendaraan.
Faktor cuaca memperburuk situasi. Kabut dan angin kencang di lokasi membuat petugas harus bekerja ekstra hati-hati agar api tidak menyebar ke sektor lain.
BPBD Provinsi NTB mengerahkan 30 personel gabungan untuk memperkuat penanganan. Mereka berasal dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, Koramil Bayan, dan Polsek Bayan.
Sebelumnya, pemadaman awal dilakukan Manggala Agni bersama MPA. Personel yang terlibat dalam penanganan meliputi TNGR, Manggala Agni, TNI, Polri, MPA, dan Balai Dalkarhut.
BPBD Provinsi NTB terus berkoordinasi dengan BPBD Lombok Utara, TNI/Polri, serta pemangku kepentingan terkait. Pemantauan perkembangan penanganan dan evaluasi kondisi di lokasi juga dilakukan secara berkala.
Hingga laporan terbaru, penyebab kebakaran belum bisa dipastikan. Proses penyelidikan masih berjalan untuk menentukan sumber api.
Musim kemarau menjadi faktor yang memperbesar risiko karhutla di kawasan hutan Lombok Utara. BPBD mengimbau masyarakat tidak membakar hutan dan lahan.
Warga juga diminta tidak membuang puntung rokok atau benda yang dapat memicu api secara sembarangan. Setelah melakukan pembakaran yang diizinkan sesuai ketentuan, masyarakat diminta memastikan api benar-benar padam.
BPBD meminta masyarakat segera melaporkan jika melihat titik api atau kebakaran. Laporan bisa disampaikan ke aparat desa/kelurahan, petugas pemadam kebakaran, BPBD, atau instansi terkait.
Koordinasi lintas instansi menjadi kunci penanganan karhutla di wilayah dengan medan sulit seperti Bukit Setampol. Evaluasi kondisi di lokasi akan terus dilakukan hingga api dinyatakan padam.