NUSA TENGGARA BARAT — Brighton menorehkan 42 poin dari 26 laga melawan Big Six sejak musim 2024-25, angka tertinggi di antara klub non-elite. Bournemouth menyusul dengan 35 poin, sementara Brentford hanya mengumpulkan 22 poin dari jumlah pertandingan yang sama. Data Opta menunjukkan mitos "Segitiga Bermuda" Premier League lebih tepat disematkan kepada satu klub ketimbang tiga.
Istilah "Segitiga Bermuda" Premier League mencuat dari meme media sosial yang menggabungkan Brighton, Bournemouth, dan Brentford sebagai trio pencuri poin dari Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Manchester United, dan Tottenham. Narasi itu makin kuat setelah Brentford menghajar Chelsea 3-0, disusul Brighton yang mengalahkan juara bertahan Arsenal dengan skor identik. Bournemouth juga sempat merepotkan Liverpool sebelum tumbang 1-0.
Namun, data Opta yang dihimpun sejak awal musim 2024-25 memberi gambaran berbeda. Brighton tampil paling konsisten dengan rata-rata 1,62 poin per pertandingan melawan Big Six. Bournemouth berada di bawahnya dengan 1,35 poin per laga. Brentford justru tertinggal jauh, hanya mengemas 0,85 poin per pertandingan.
Sejak Fabian Hurzeler menangani Brighton, hanya Kenny Dalglish bersama Blackburn yang mencatat rata-rata poin lebih baik melawan Big Six di antara pelatih klub non-Big-Six dengan minimal 10 pertandingan. Catatan itu menempatkan Brighton bukan sekadar bagian dari segitiga, melainkan inti dari fenomena tersebut.
Rekor Brighton bahkan masuk jajaran terbaik yang pernah dibukukan klub non-Big-Six sepanjang era Premier League menurut Opta. Konsistensi inilah yang membuat meme "Segitiga Bermuda" terus hidup, meski fondasinya sebenarnya bertumpu pada satu klub.
Bournemouth membuktikan diri sebagai pendukung kuat teori ini. Klub asuhan Andoni Iraola itu mengumpulkan 35 poin dari 26 laga melawan tim elite, angka yang menempatkannya sebagai salah satu pengganggu paling merepotkan di liga.
Brentford berada di posisi berbeda. Newcastle dan Nottingham Forest sama-sama mencatat 1,46 poin per laga melawan Big Six pada periode yang sama, sementara Aston Villa mengumpulkan 1,38 poin. Ketiganya melampaui capaian Brentford yang hanya 0,85 poin per pertandingan.
Kemenangan mencolok Brentford atas Chelsea dan Tottenham musim ini memang memperkuat reputasi mereka sebagai lawan sulit. Tapi secara keseluruhan, konsistensi Brentford jauh di bawah dua klub yang sering disandingkan dengannya.
Perbedaan sumber daya menjadi kunci mengapa narasi ini bertahan. Bournemouth, Brighton, dan Brentford tidak bisa bersaing dalam hal belanja pemain dengan Arsenal, Liverpool, atau Manchester City. Kemenangan mereka atas klub-klub raksasa karena itu terasa lebih dramatis dan mudah diingat.
Pola pikir itu diperkuat fakta bahwa klub-klub mapan dengan pengelolaan cerdas kerap dipandang mengalahkan lawan yang jauh lebih kaya. Setiap kemenangan menjadi bahan cerita yang bertahan lama, bahkan ketika statistik menunjukkan gambaran yang lebih rumit.
Jika memang ada Segitiga Bermuda di Premier League, Brighton adalah pusatnya. Bournemouth memberi dukungan nyata, sedangkan Brentford lebih berperan menyuplai momen-momen yang menjaga teori itu tetap beredar di jagat maya.