NUSA TENGGARA BARAT — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan dukungan penuh atas rencana Presiden Prabowo Subianto mengembangkan BBM dari batu bara sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor. Teknologi pengolahan batu bara kalori rendah menjadi gas dan minyak dinilai sudah tersedia dan telah diterapkan di sejumlah negara. Pemerintah menyebut sejumlah perusahaan telah mengajukan penawaran kerja sama untuk merealisasikan proyek ini.
Dukungan itu disampaikan Bahlil menanggapi arahan Prabowo yang ingin memanfaatkan seluruh potensi energi domestik di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu. Pernyataan tersebut dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (23/9).
Menurut Bahlil, gagasan ini berangkat dari kebutuhan memperkuat ketahanan energi nasional dengan memaksimalkan sumber daya yang ada di dalam negeri, bukan semata bergantung pada pasokan luar.
Bahlil menjelaskan perkembangan teknologi kini memungkinkan batu bara berkalori rendah diolah menjadi gas maupun minyak. Ia menyebut teknologi serupa sudah dipakai di sejumlah negara, termasuk China.
"Sekarang teknologinya sudah canggih, di mana batu bara yang low calorie itu bisa menghasilkan gas maupun minyak," ujar Bahlil.
Indonesia dinilai punya modal besar karena cadangan batu baranya melimpah. Beberapa perusahaan bahkan telah menyampaikan penawaran kerja sama teknologi kepada Kementerian ESDM.
"Beberapa perusahaan-perusahaan sudah melakukan penawaran kepada kami untuk melakukan kerja sama. Kita tahu bahwa potensi batu bara kita untuk melakukan teknologi itu sangat besar sekali," kata dia.
Langkah ini disebut Bahlil sebagai bentuk tindak lanjut atas arahan Prabowo untuk mengoptimalkan sumber energi dalam negeri. Target utamanya mengurangi beban impor BBM yang selama ini membebani anggaran negara.
"Karena itu kami sebagai Menteri ESDM akan menindaklanjuti setiap perintah arahan Pak Presiden terkait dengan optimalisasi dalam rangka meningkatkan ketahanan energi dengan memakai sumber energi dalam negeri," ucap Bahlil.
Sebelumnya, Prabowo menyatakan pemerintah tidak hanya mengembangkan BBM berbasis kelapa sawit. Ia melihat peluang membuat bensin dari batu bara sebagai salah satu opsi diversifikasi energi.
"Profesor-profesor kita yang pintar, yang benar pintar ya, bukan yang profesor tadi itu. Dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit, dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit, dan kita juga nanti akan bikin bensin dari batu bara," kata Prabowo.
Selain batu bara, pemerintah mengkaji pengembangan bensin berbasis etanol. Rencananya pencampuran etanol ke dalam bensin dilakukan bertahap, mulai dari E10 hingga E50.
Skema bertahap ini memberi ruang bagi industri dan konsumen untuk beradaptasi sebelum kadar campuran dinaikkan. Namun belum ada keterangan resmi soal jadwal pasti penerapannya.